Air hujan adalah sumber kehidupan, dan Al-Qur’an adalah sumber petunjuk. Keduanya sama-sama turun dari langit dan sama-sama membawa manfaat.
Ketika hujan turun, airnya mengalir ke berbagai tempat. Ia melewati gunung dan bukit tanpa menetap, lalu mengalir ke lembah dan dataran rendah. Setiap lembah menampung air sesuai dengan kapasitasnya. Begitu pula Al-Qur’an: ia sampai ke telinga semua manusia, tetapi hati mereka berbeda-beda dalam menerimanya.
Ada hati yang lapang dan bersih, sehingga mampu menampung petunjuk Al-Qur’an sesuai kadar iman dan amalnya. Ada pula hati yang keras dan sombong, sehingga Al-Qur’an hanya lewat tanpa meninggalkan bekas. Bahkan ada juga hati yang menerimanya, tetapi justru memetik darinya keraguan, syubhat, dan penolakan karena niat yang menyimpang.
Air hujan yang mengalir sering membawa buih di permukaannya. Buih itu terlihat mengembang, tetapi tidak bermanfaat. Ia akan segera hilang. Yang tersisa hanyalah air jernih yang memberi kehidupan. Demikian pula dengan Al-Qur’an: pemahaman yang keliru, syubhat, dan penyelewengan mungkin tampak ramai dan menonjol, tetapi semuanya akan lenyap. Yang akan tetap tinggal dan memberi manfaat adalah kebenaran Al-Qur’an itu sendiri.
Ibnu Asyur:Tahir wat tanwir, arra'd ayat 17.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar